
Senin, 14 Maret 2011

Secondhand Serenade - Your Call

call I'm desperate for your voice
Listening to the song we used to sing
In the car, do you remember
Butterfly, Early Summer
It's playing on repeat, Just like when we would meet
Like when we would meet
Cause I was born to tell you I love you
and I am torn to do what I have to, to make you mine
Stay with me tonight
Stripped and polished, I am new, I am fresh
I am feeling so ambitious, you and me, flesh to flesh
Cause every breath that you will take
when you are sitting next to me
will bring life into my deepest hopes, What's your fantasy?
(What's your, what's your, what's your...)
Cause I was born to tell you I love you
and I am torn to do what I have to, to make you mine
Stay with me tonight
And I'm tired of being all alone, and this solitary moment makes me want to come back home
x4
(I know everything you wanted isn't anything you have)
Cause I was born to tell you I love you
and I am torn to do what I have to, to make you mine
Stay with me tonight
Cause I was born to tell you I love you
and I am torn to do what I have to, to make you mine
Stay with me tonight
(I know everything you wanted isn't anything you have)
Cahaya Di Dalam Kegelapan
Lahir dengan berat 2 kg dan mata yang tidak sempurna, dokter itu memerintahkan suster-suster untuk manggendongmu ke dalam inkubator. Kau sangat mungil dan cantik, namun ayah hanya bisa memandangmu dari balik kaca inkubator. Ibu sangat lemah, terbaring tak berdaya dengan mata tertutup di atas tempat tidur beroda.
Delapan bulan kemudian, dokter mengizinkan ibu dan ayah membawa kau pulang. Suara derum mobil ayah menemani perjalananmu menuju rumah yang akan menjadi tempat perlindungan teraman. Seluruh keluarga besar berkumpul di rumah untuk menyambut kedatanganmu. Kedatangan bayi mungil dengan tangisannya yang kencang. Rumah sangat penuh dengan rasa haru dan syukur. Rasa syukur akan kebaikan Tuhan yang masih memberikanmu kesempatan untuk mencicipi kebahagiaan. Merasakan warna-warni dunia dibalik kegelapan.
Delapan tahun berlalu. Kau tumbuh menjadi gadis kecil cantik berambut coklat. “Kesya, saatnya makan!” suara ibu memanggilmu yang sedang asyik bermain piano. “Iya, Ibu.” Kau meninggalkan mainan kesayanganmu dan mulai meraba dinding, berjalan pelan-pelan menuju ruang makan. “Aduh!” Kau tersandung sesuatu. Ibu yang mendengarnya merasa khawatir dan langsung berlari menghampirimu. “Kau baik-baik saja, sayang?” “Iya, Bu. Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja.” Suaramu yang teduh sedikit menenangkan rasa khawatir ibu.
Selesai kau makan, ibu pun mengantarmu ke sekolah istimewa. Ya, orang-orang menyebutnya sekolah istimewa, mungkin karena hanya anak-anak seperti kau saja yang bersekolah di sana. Walau kau tak sempurna, tapi guru-gurumu sangat sayang kepadamu. Kau termasuk murid paling pandai di antara teman-temanmu.
Hari ini pelajaran beryanyi, pelajaran favorit yang kau tunggu-tunggu setiap hari. Suaramu yang merdu dalam do re mi membuat Pak Iwan bersemangat dalam mengajar. Begitu juga teman-temanmu, mereka ikut senang mendengarmu menyanyi dan mulai mengikuti apa yang kau lakukan.
Bel berbunyi jam satu siang, tanda kau harus pulang. Hari ini giliran ayah yang menjemputmu, ia menghampirimu yang sedang duduk manis di bangku kelas. “Kesya, ayah datang, sayang.” Beliau memelukmu erat, kau pun mendekapnya hangat. Lalu menggendongmu menuju mobil. Itulah yang kau dan teman-temanmu lakukan setiap hari. Belajar di sekolah istimewa, beryanyi, bermain alat musik, berhitung, membaca dengan buku khusus, membuat teh secara mandiri, ditemani Pak Iwan, Bu Anggar, Bu Rani, dan Bu Wati.
Sore hari, saatnya mendengarkan radio. Kau pun menyalakannya, kemudian meningkatkan volumenya. “Jangan kau sesali apa yang telah terjadi. Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik. Tuhan pasti
Kau menyadari, walau kau buta tapi kau memiliki segalanya, ibu yang mencintaimu, ayah yang menyayangimu, guru-guru yang mengasihimu, teman-teman yang selalu setia menemanimu belajar dan bermain di sekolah. Walau kau sangat ingin memandangi wajah mereka, tapi kau masih bisa merasakan hangatnya kasih sayang tulus yang mereka berikan kepadamu. Wajahmu yang polos tak pantas bersedih dan tak pantas menitikkan air mata.
Semangatmu bangkit. Keceriaanmu kembali. Keesokan harinya, seperti biasa setelah kau selesai makan, ibu mengantarmu ke sekolah. Bertemu dengan kawan-kawan sepermainan membuatmu senang. “Anak-anak, hari ini kita kedatangan tamu dari Metro TV. Siapa yang tahu acara Kick Andy? Ayo sebutkan nama!” tanya Pak Iwan. “Saya, Pak!” “Saya, Pak!” “Saya tahu, Pak! Kesya pernah dengar itu!” Kau dan teman-teman berteriak bersahutan. Tamu
dari acara tersebut ingin meliput kegiatan apa saja yang dilakukan oleh sekolah istimewa.
Pak Iwan menyuruhmu untuk menyanyi di depan kelas, diiringi oleh suara piano yang dimainkan oleh Pak Iwan. Kau menyanyikan lagu “Jangan Menyerah” karya D’Masiv yang kau dengarkan kemarin sore. Orang-orang dari Metro TV pun kagum dan terkesan, banyak dari mereka menitikkan air mata.
Dua minggu kemudian, kau muncul di televisi dalam acara Kick Andy. Kini semua orang mengenalmu, mengenal seorang anak kecil yang tetap bersemangat dan akan terus bercahaya di dalam kegelapannya.
Senin, 28 Februari 2011
Avril Lavigne - Skater Boy (lyric)
Avril Lavigne - Runaway (lyric)
Jumat, 11 Februari 2011
DON’T ASK ME ANYTHING AFTER YOU READ IT !!
Aku ikut PMDK di sebuah PTN di daerah tempatku tinggal. Jaraknya cukup jauh, cukup untuk membuat (maaf) ‘pantat’mu panas akibat terlalu lama duduk di atas motor. Tapi itu tak jadi masalah asal aku bisa mewujudkan mimpiku itu. Keluargaku belum menyetujui pilihan prodi yang aku pilih. Akhirnya aku mencoba mengalah, aku memilih prodi seni rupa, setidaknya masih ada kaitannya dengan desain. Tes tulis berjalan sedikit mulus. Tes gambar, aku merasa pesimis, saingannya sangat berat. Aku ditolak masuk PTN itu.
Beberapa minggu kemudian aku ikut SNMPTN, lalu ikut UMDESAIN ITS, pengumumannya selisih satu hari. Sangat menyebalkan, sialnya aku ditolak dan ditolak lagi. Aku merasa marah pada diriku sendiri, aku iri melihat mereka yang beruntung. Iri melihat mereka yang tak ada usaha untuk belajar tapi lolos seleksi. Iri pada mereka yang mengandalkan kekayaannya agar juga bisa lolos tes seleksi. Aku merasa keberuntungan sama sekali tak memihakku. Aku merasa takdirku sangat buruk. Tapi aku tak ingin hal ini membunuhku pelan-pelan. Ku ambil keputusan yang sangat berat. Ku ambil keputusan yang kurasa akan sedikit membuatku terbunuh lagi. Aku memilih untuk kulih tahun depan. Ya, tahun depan. Aku meminta izin pada orang tuaku untuk mengizinkanku daftar kuliah di Jogja pada tahun ajaran berikutnya. Aku benci ketika ibuku mengatakan “Ya, boleh”, lalu berkata lagi, “Kuliah disini saja, biaya hidup disana mahal”. Tolong, aku hanya ingin kepastian, boleh atau tidak.
Tahun ini aku putuskan untuk bekerja saja, uangnya akan ku tabung untuk tambahan biaya kuliah. Nanti jika tahun depan aku dinyatakan di terima di salah satu univ Jogja yang aku pilih, aku akan kuliah dengan sungguh-sungguh, aku berjanji demi masa depanku, aku juga akan mencari kerja paruh waktu untuk biaya tambahan. Haaaaaa…. Saat menulis ini, aku masih seorang pengangguran. Masih berlabel PENGANGGURAN. Belum juga ada telpon dari pihak manapun tempat aku melamar pekerjaan, padahal aku telah melamar pekerjaan dimana mana mana mana mana mana. Ih, waw. =_____=)’
Kau tau, tapi kurasa kau tak tahu…untuk itu ku ingin memberi tahu sesuatu, sesuatu tentang mimpiku, khayalanku, imajinasiku, yang aku berjanji pada diriku sendiri utuk mewujudkannya. Ya, aku pasti berusaha untuk mewujudkannya. Hihihi… insya Allah.^^v
Ini mimpiku…
“Aku seorang gadis biasa, anak orang biasa, kaya tidak, miskin tidak, tapi punya mimpi luar biasa. Aku ikut seleksi masuk perguruan tinggi di Yogyakarta, dan aku dinyatakan diterima di Institut Seni Indonesia Yogyakarta atau biasa disebut ISI Jogja. Jurusan Desain, program studi Desain Komunikasi Visual. Aku ingin menjadi seorang Desainer Grafis professional, menjadi Animator handal, menjadi Fotografer terkenal. Atau apalah yang tak jauh dari dunia desain.
Aku kuliah dengan sungguh-sungguh, kerja part-time pun ku lakukan demi tercukupnya kebutuhan hidup di Jogja. Ketika semester akhir tiba, aku mengerjakan skripsiku dengan sungguh-sungguh, dan akhirnya aku lulus dan dinyatakan sebagai lulusan terbaik saat itu.
Setelah dinyatakan lulus, aku kembali ke kota asalku Sidoarjo. Aku mengabdi dua tahun di sebuah perusahaan desain disana. Setelah merasa tabungan yang ku dapat dari bekerja lumayan banyak, aku nekat pergi ke luar negeri, Amerika. Wah, negeri paman sam, sulit sekali aku membayangkannya.
Disana aku mendapat beasiswa untuk lanjut studi S2, tapi ketika menginjak semester 5 aku merasa malas dan lebih tertarik mencari pekerjaan. Aku melamar kerja di sebuah perusahaan perfilman animasi yang cukup terkenal. Aku diterima ! karya-karyaku dianggap memenuhi kriteria perusahaan itu. Aku senang sekali. Ketika aku mulai bekerja, aku diberi tugas yang cukup berpengaruh, yaitu, Lighting effect.
Suatu hari, boss-ku mempertemukanku dengan salah satu tokoh idolaku yang ku anggap sangat berpengaruh di dunia movie, Mr. Steven Spielberg. Ya, Tuhan…. Ini mimpiku yang menjadi nyata. Sungguh tak pernah kuduga aku bisa bertemu dengan beliau.
Tujuh tahun di Amerika sendirian membuatku wajib mencari pasangan hidup, tapi sebelum aku mencari pangeran itu, seorang lelaki tampan, cucu Mr. Spielberg melamarku untuk menjadi istrinya. Oh Damn !! rasanya tubuhku meleleh tak sangggup menolak. Hahahaaa… dan yang paling membuatku wajib untuk menerima lamarannya adalah dia meminta tolong padaku untuk membantunya mengenal Islam lebih jauh lagi. Ya Tuhan, lengkaplah semuanya.” –beautiful ending-
Wkwkwkw konyol bukan?! Itulah mimpiku, khayalanku, imajinasi anehku. Tapi percayalah, itu akan sangat sulit untuk diwujudkan. ^0^v hwahahahaahahahaaa
Sekian-matur nuhun-
Nb: cerita ini aku tulis beberapa bulan yang lalu, saat aku menggila dengan semua keadaan yang ada di hadapanku. ^^
Minggu, 06 Februari 2011
bad day !!
really wanna crying :'(
udah sakit, banyak tugas, capekkkkk !!